PESANTREN, MADRASAH, DAN SEKOLAH

PENJELAJAHAN RECITAL, INTELEKTUAL, DAN SPIRITUAL TAK BERTEPI

Home | Sastra Muslim | Dunia Islam | Studi al-Qur'an | Semiotika | Cross Cultural Understanding

Kamis, 13 Februari 2014

MAN INSAN CENDEKIA GORONTALO

        Upaya menciptakan madrasah yang unggul dan kompetitif terus diupayakan oleh Kemenag RI. Salah satunya adalah upaya untuk membuat sekolah-sekolah unggulan dan madrasah model. Salah satunya adalah Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC). Hingga kini (2014) terdapat tiga MAN IC, yakni MAN IC Serpong, MAN IC Gorontalo, dan MAN IC Jambi. Konsep MAN IC ini berawal dari desain pendidikan masa depan dan atau magnet School yang dibuat oleh Kemenristek/BPPT pada tahun 1996, yang saat itu dijabat oleh Prof. B.J. Habibie. Oleh karenanya, pada awalnya sekolah, yang semula berupa SMA/SMU IC, ini identik dengan sekolahnya Habibie atau sekolahnya BPPT. Sejak awal, sekolah ini didesain sebagai sekolah berasrama (Boarding School), menerapkan sistem pendidikan terintegrasi antara pencapaian kompetensi Imtak dan Iptek, serta sekolah yang memiliki keunggulan dalam sains, khususnnya Mafikibi (matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi). Kemudian pada tahun 2000, pengelolaan MAN IC ini diserahkan ke Departemen Agama (Kemenag) RI.
      Salah satu dari ketiga MAN IC tersebut adalah MAN Insan Cendikia Gorontalo (MAN ICG). Deskripsi di bawah ini merupakan sebagian potret MAN ICG yang ditulis oleh Dr. H Rohmat Mulyana, yang juga merupakan Kasubdit Kelembagaan dan Kerjasama Direktorat Pendidikan Madrasah Kemenag RI.
------

Mutiara Pendidikan Sejati dari Man Insan Cendekia Gorontalo

 Dr. H. Rohmat Mulyana, M.Pd
Kasubdit Kelembagaan dan Kerjasama Direktorat Pendidikan Madrasah Kementerian Agama RI

             Saat pertama kali menginjakan kaki di pelataran MAN Insan Cendikia Gorontalo, bangunan lembaga pendidikan ini tampaknya biasa-biasa saja, tidak jauh beda dari bagunan madrasah unggul lainnya yang tersebar di sejumlah peloksok Indonesia. Bahkan kalau dibandingkan dengan lembaga pendidikan unggul sejenis di luar negeri dapat dikatakan infrastruktur fisik MAN Insan Cendikia Gorontalo kalah megah. Namun di balik itu, ternyata semuanya melebihi dari yang kasat mata! Ruhul jihad pendidikan di sini bangkit bagaikan lentera di malam hari yang menerangi benda di sekelilingnya; menebar ilmu pengetahuan kepada para pembelajar, membagi energi pada pendidik yang tengah mengabdi.
Baca selengkapnya »
Diposting oleh Dadan Rusmana di 12.27 0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Madrasah, Madrasah Aliyah, Madrasah Unggulan di Indonesia

Selasa, 11 Februari 2014

Sebuah SMA Islam Masuk 10 Sekolah Terpopuler di Inggris

 Sabtu, 08 Februari 2014, 03:31 WIB
REPUBLIKA.CO.ID,LONDON--Setelah seperempat abad bekerja keras, sebuah SMA Islam di Inggris akhirnya masuk dalam 100 sekolah favorit di Inggris setelah meraih penilaian Sertifikasi Pendidikan Menengah (GCSE) sangat baik musim panas lalu.

''Kami sangat senang nilai GCSE musim panas meningkat 19 persen dari penilaian tahun lalu, hal yang tidak kami duga,'' kata kepala SMA Muslimah Preston, Mufti Javid, Kamis (6/2), kepada surat kabar Lancashire Evening Post, seperti dikutip Onislam.

Javid benar-benar tak menyangka sekolah yang dipimpinnya akan masuk 100 sekolah favorit di negeri Ratu Elizabeth itu. SMA Muslimah Preston bahkan diberi ucapan selamat oleh Menteri Pendidikan David Laws MP atas prestasi yang mereka raih.

''Ketika saya menerima surat bertanda House of Commons, saya tidak tahu apa isi surat itu. Saya agak takut membaca isinya dan sangat berharap kami dapat lulus sertifikasi seperti yang kami yakinkan kepada semua orangtua siswa, staf, dan murid-murid kami,'' ungkap Javid.
Baca selengkapnya »
Diposting oleh Dadan Rusmana di 13.29 0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Pendidikan Islam di Amerika dan Eropa, Pendidikan Islam di Inggris, Sekolah Islam di Eropa

OBSESI MENUJU WORLD CLASS UNIVERSITY

         Menjadi Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) yang berkelas dunia (World Class University) merupakan salah satu obsesi (keinginan kuat) yang mulia, untuk menunjukkan dan membuktikan bahwa Perguruan Tinggi Islam di Indonesia mampu menghasilkan sistem pendidikan yang diakui oleh dunia Internasional. Namun demikian, untuk mencapai hal tersebut tentunya bukanlah hal yang mudah, tetapi bukan pula sesuatu yang mustahil. Diperlukan kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas untuk memulai, menjalani, melakukan supervisi, dan continous improvement and evaluation. Untuk mendapatkan pengakuan ini, PTAI harus terus meningkatkan kualitas dan daya saingnya agar mampu menyamai bahkan melampaui pencapaian dari Universitas-Universitas Unggulan di Eropa dan Amerika, seperti Harvard, Oxford, dan Indiana, selain juga harus berkompetisi positif dengan PTU terkemuka di dalam Negeri dan tingkat regional ASEAN dan Asia.
Baca selengkapnya »
Diposting oleh Dadan Rusmana di 12.54 0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Perguruan Tinggi, Perguruan Tinggi Islam

Sabtu, 18 Januari 2014

Pesantren Hidayatul Faizin

Pesantren Hidayatul Faizin, Bayongbong Garut

 
“Ananda, siap tidak siap kamu harus siap. Dimana pun, kapan pun kamu harus selalu siap berjuang, karena agama tidak pernah melarang perempuan untuk maju ke medan perjuangan. Bahkan agama menjunjung tinggi dan memberikan penghargaan kepada perempuan dengan mengabadikan nama “annisa” (perempuan- perempuan) sebagai salah satu nama surat dalam Alquran.”

Itulah pesan yang selalu diingat Hj. Hilma Mimar, putri sulung dari sembilan bersaudara, buah cinta pasangan KH. A. Mimar Hidayatullah dan Hj. Dalfa Utsman, Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatul Faizin yang terletak di kawasan Bayongbong Kabupaten Garut Jawa Barat. Pesan tersebut merupakan landasan yang selalu menjadi spirit sekaligus inspirasi dalam menjalani kehidupan dengan segala aktivitasnya.

Bersama suami tercinta, Hj. Hilma membantu ayahanda mengelola pesantren yang saat ini memiliki santri tidak kurang dari 500 santri perempuan. Dalam mengelola pesantren ini, perempuan tidak diposisikan sebagi pelengkap semata. Hj. Hilma justru memainkan peran yang sangat signifikan dalam seluruh proses pendidikan yang berlangsung di pesantren ini dengan tetap mempertahankan penggunakan metode salaf ini. Kini, Pesantren Hidayatul Faizin yang telah berdiri sejak tahun 1839 telah memiliki pendidikan sekolah setingkat Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Keberadaan sekolah inipun tidak terlepas dari tangan dinginnya dalam merumuskan kebijakan pesantren di saat adik-adiknya masih mengenyam pendidikan di berbagai daerah.
Baca selengkapnya »
Diposting oleh Dadan Rusmana di 14.01 0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Profil Pesantren, Titian Muhibah Dunia Pesantren

TASYWIQ AL-KHILLAN: MENGAKRABKAN NAHWU ARAB KEPADA PEMBACA NUSANTARA

       Karya pesantren merupakan salah satu ciri dari kreativitas akademis-intelektual kalangan Muslim Nusantara. Tidak terhitung jumlahnya tentang karya-karya yang lahir dari pesantren sejak keberadaan lembaga pendidikan Islam ini di Nusantara hingga kini. Yang jelas, manuskrip-manuskrip dan buku-buku ajar yang masih digunakan di berbagai pesantren menjadi ciri bahwa geliat (re)produksi karya tulis kreatif merupakan salah satu ciri dari pesantren. Jika ada asumsi bahwa pesantren "nihil" sumbangan karya dalam konteks "pendidikan Nasional-Sekuler", maka jawabannya terletak pada eksistensi karya-karya tersebut di dunia pesantren sendiri. Persoalannya terletak pada keengganan pengakuan dan ketidakpedulian dari pendidikan mainstream (baca: sekolah) terhadap karya-karya tersebut. Di bawah ini adalah tulisan tentang salah satu karya dari K.H. Muhammad Makhsum bin Salim yang menulis Tasywiq al-Khillah, sebuah karya dalam bidang Nahwu, yang ditujukan sebagai referensi bagi pelajar-pelajar di Nusantara dan lainnya.
 
 
 
Tasywiqul Khillan, Satu Keunggulan Nahwu Ulama Nusantara
 
Jumat, 08/11/2013 13:08
KH Muhammad Makshum bin Salim orang Indonesia yang menunjukkan keunggulan ulama Nusantara. Ulama asal Semarang, Jawa Tengah ini menulis kitab Tasywiqul Khillan. Dalam kitab itu, pengalaman membaca dan keahliannya mengenai Nahwu (tata bahasa Arab) terlihat jelas.

Dalam kitabnya, sejumlah rujukan digunakan. Secara jelas ia menyebutkan rujukan utamanya seperti hasyiyah Abu Bakar Asy-Syanwani atas Syarah Al-Jurumiyah karya Syekh Kholid, Syarah Kafiyah Ibnul Hajib karya Syekh Ridho Istrobadzi, dan Mughnil Labib, Syudzurudz Dzahab, Qathrun Nada karya Jamaluddin Ibnu Hisyam Al-Anshori.
Baca selengkapnya »
Diposting oleh Dadan Rusmana di 13.59 0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Karya Pesantren, Profil Kyai

PENDIDIKAN UNTUK KAUM PEREMPUAN AFGANISTAN

 
 
Akhirnya Taliban Dirikan Sekolah untuk Anak Perempuan
Seperti diketahui, ketika rezim Taliban menguasai Afganistan, banyak peraturan yang dikeluarkan oleh rezim ini yang dianggap mengekang kiprah kaum perempuan di ruang publik (public domain), termasuk kaum perempuan dilarang untuk sekolah. Namun seiring dengan pergantian rezim dan perubahan orientasi perjuangan, maka sebagian pimpinan (dan eks-pimpinan) Taliban mulai menerima demokrasi, modernisasi, dan pendidikan modern. Di bawah ini disajikan tulisan dari Mukafi Na'im tentang salah satu bentuk keterbukaan kelompok Taliban terhadap pentingnya pendidikan (formal) bagi kaum perempuan.
 
 
Akhirnya Taliban Dirikan Sekolah untuk Anak Perempuan
 
Sabtu, 18/01/2014 00:38
Kabul, NU Online
Saat Taliban melarang anak- anak perempuan untuk bersekolah di tahun 1990-an, Mulah Wakil Ahmad Muttawakil menjabat sebagai menteri luar negeri.

Kini, putri Muttawakil bersekolah di Kabul— di sebuah sekolah yang ia bangun. “Ia duduk di kelas dua dan menjadi salah satu siswa berprestasi di kelasnya,” ujarnya bangga. Katanya ia sering membantu anaknya mengerjakan pekerjaan rumah. Demikian dilaporkan oleh wall street journal, Kamis (17/1).
Baca selengkapnya »
Diposting oleh Dadan Rusmana di 13.48 0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Madrasah di Asi Tengah, modernisasi Madrasah

KYAI MA'SHUM BIN ALI DAN KARYA-KARYANYA

        Karya pesantren yang dibahas kali ini adalah Kitab al-Amtsilatu al-Tashrifiyyah karya Kyai Haji Ma'shum bin Ali, seorang Kyai asal Jombang. Karya ini menjadi salah satu buku daras yang dipergunakan di banyak pesantren, madrasah, dan lembaga pendidikan Islam lainnya. Hingga saat ini, karyanya ini dapat dikatakan belum tergantikan, sekalipun muncul karya-karya serupa. Tulisan Saifullah Ibn Nawawi di bawah ini mengantarkan kita untuk mengenal sekilas karya ini.

KYAI MA'SHUM BIN ALI DAN KARYA-KARYANYA
 
Jumat, 17/01/2014 16:15
Kebanggaan sebagai orang Jombang semakin berlipat. Salah satu kitab kuning yang dikenal dengan nama “Tashrifan” yang banyak diajarkan di madrasah serta pondok pesantren, dan amat masyhur di Nusantara, bahkan di manca negara, juga merupakan karya besar ulama asal Jombang.
Kitab ini bernama “Al-Amtsilah at-Tashrifiyyah” di bidang ilmu sharaf merupakan karya KH M Ma’shum bin Ali asal Pesantren Seblak Diwek Jombang. Susunan bait-baitnya sangat sistematis, sehingga mudah difahami dan dihafal bagi para pelajar dan santri. Hampir di seluruh lembaga pendidikan madrasah yang ada di Indonesia bahkan beberapa negara Islam, kitab ini menjadi salah satu bidang studi yang tetap dikaji. Saking masyhurnya, kitab ini mempunyai julukan “Tasrifan Jombang”.
Keagungan kitab ini tak hanya terletak pada ilmu sharaf. Bila diteliti, ternyata sistematikanya memuat makna filosofi yang sangat tinggi. Kitab ini bukan saja mempunyai sistematika penulisan yang unik, akan tetapi memiliki filososfi pengajaran perilaku kehidupan. Salah satu contoh bisa dilihat, pada fi’il tsulasi mujarrad misalnya, dalam enam kalimat yang disebut ternyata mengandung filososfi kehidupan.
Baca selengkapnya »
Diposting oleh Dadan Rusmana di 13.37 0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Karya Pesantren, Profil Kyai

DASAR POLITIK PESANTREN



Senin, 06/01/2014 09:00

Buku karya Ahmad Baso ini menceritakan bagaimana ilmu politik Indonesia tergerus sedikit demi sedikit yang menyebabkan keterputusan dengan tradisi dan kehilangan identitasnya. Semua itu bermula dengan adanya penjajahan. Menurut Baso, penjajahan bangsa asing, bukan hanya menyebabkan penderitaan rakyat di bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, melainkan juga menyebabkan kita kehilangan ilmu politik asli bangsa Indonesia warisan leluhur. Dan penjajah mengisi kekosongan ilmu politik bangsa ini dengan ilmu politik mereka hingga dewasa ini. Indikasinya banyak kitab, buku yang dicuri dibawa oleh penjajah ke negaranya, sehingga banyak generasi kita selanjutnya terputus pengetahuan politiknya dengan tradisinya dan tanah airnya.

Baca selengkapnya »
Diposting oleh Dadan Rusmana di 13.19 0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Buku tentang Pesantren

Rabu, 27 November 2013

KONDISI PENELITI DAN PENELITIAN DI INDONESIA

Indonesia Masih Butuh Banyak Peneliti

           SURABAYA (KRjogja.com) - Indonesia idealnya membutuhkan 200.000 peneliti di berbagai bidang untuk bisa mengejar ketertinggalan kemajuan teknologi dari negara lain. Hal tersebut disampaikan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Lukman Hakim saat membuka seminar ilmiah, temu industri dan pameran "Annual Meeting on Testing and Quality" (AmTeQ) di Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur. "Sekarang ini jumlah peneliti yang ada di Indonesia masih kecil dan tidak seimbang dengan jumlah penduduknya," kata Lukman Hakim, Rabu (23/10/2013).
       Saat ini sumber daya manusia ilmu dan pengetahuan, khususnya peneliti Indonesia yang terdaftar di LIPI sebanyak 8.000 orang dan 16.000 peneliti bekerja di perguruan tinggi. Sedangkan peneliti yang berada di bawah naungan institusi swasta, dia mengatakan, belum dapat dipastikan jumlahnya. Lukman menilai jumlah peneliti tersebut tentu saja terlalu kecil dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mendekati 240 juta jiwa.
     Contohnya, Belarusia sebuah negara kecil di Eropa memiliki 36 peneliti per 10.000 penduduk. Sementara Indonesia masih pada komposisi satu peneliti per 10.000 penduduk. Dikatakan pula, saat ini ilmu pengetahuan selama ini dipercaya sebagai tulang punggung negara maju untuk memenangkan persaingan, baik ekonomi maupun politik. "Negara-negara maju menyadari peran penelitian ilmu pengetahuan dalam mengembangkan daya saing industri untuk pertumbuhan ekonominya," katanya.
    Salah satu peneliti LIPI menyatakan, Indonesia saat ini masih menjadi "raksasa sedang tidur", meski dari sisi PDB sudah masuk dalam 16 besar dunia, bahkan 25 tahun lagi masuk 10 besar kekuatan ekonomi dunia.  Namun tekad itu tetap sebatas impian apabila tidak diikuti kemampuan riset dan teknologi, serta pembiayaan riset yang memadai. "Oleh sebab itu jumlah peneliti harus diperbanyak karena dengan jumlah peneliti yang masih sedikit sekarang ini dinilai tidak wajar," katanya.(Ati)
Diposting oleh Dadan Rusmana di 17.52 1 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: PENELITIAN

Selasa, 19 November 2013

Madrasah Riset Menjadi Agenda Tahunan

Madrasah harus menjadi tempat belajar  yang memadukan antara ajaran Islam yang kuat dan akhlakul karimah dengan mempertimbangkan keseimbangan iman, ilmu, dan amal. Untuk keperluan ini maka setiap madrasah diharuskan untuk mengalokasikan dana khusus untuk kegiatan riset. Demikian ditegaskan oleh Prof Nur  Syam, Direktur Jenderal Pendidikan Islam.
“Andai  5 % saja dari anggaran yang ada di madrasah digunakan untuk kegiatan ini, maka saya tidak bisa bayangkan apa yang akan terjadi dalam 5 sampai dengan 10 tahun mendatang. Insya Allah mimpi kita akan lahirnya ilmuwan-ilmuwan muslim dari rahim madrasah akan terwujud” jelas beliau. “Mengamati perkembangan beberapa tahun terakhir, saya melihat banyak penelitian yang dilakukan oleh para siswa madrasah, baik tingkat Madrasah Aliyah maupun Madrasah Tsanawiyah bahkan Madrasah Ibtidaiyah, yang sangat bagus dan bersentuhan langsung dengan masyarakat. Dengan demikian kita menjadikan Madrasah Riset sebagai agenda resmi tahunan”, ditegaskan oleh Prof Dr Nur Syam, MSi, Direktur Jenderal Pendidikan Islam, saat ditanya wartawan di sela-sela Launching Program Madrasah Riset Nasional (Pro Madrina), Mataram, NTB, Rabu (04/09).
“Bahkan, ada siswa madrasah yang menghasilkan buku riset. Dan, kita juga sudah mengkopilasi beberapa untuk disebarkan secara Nasional,” tambah Nur Syam.
Mantan Rektor IAIN Surabaya ini menjelaskan, berawal dari pembelajaran yang tidak sekedar bersifat teoritis-konseptual, akan tetapi juga penelitian empiris, siswa madrasah menunjukan prestasi yang sangat luar biasa. “Ada yang meriset makanan sehat, pengawetan makanan, pupuk organik, dan lain sebagainya,” kata Nur Syam.
“Kami berkeyakinan, ke depan, madrasah bisa menjadi pusat riset” katanya lagi.
Bahkan, lanjut Prof. Nur Syam, riset akan menjadi salah satu ciri khas madrasah. Dengan demikian madrasah siap menghasilkan peneliti – peneliti pemula dari tingkat Madrasah Tsanawiyah sampai dengan Madrasah Aliyah, sehingga menghasilkan ilmuwan-ilmuwan yang terbaik dan berkualitas untuk mengembangkan kualitas pendidikan Islam secara berjenjang.

Sumber: http://madrasah.kemenag.go.id/info_terkini/?p=41
Diposting oleh Dadan Rusmana di 12.39 0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Madrasah Riset, modernisasi Madrasah, Pengembangan Sains di Madrasah

Rabu, 13 November 2013

AKSIOMA dan KSM menjadi wujud kesuksesan akademik madrasah

Kompetensi Sains Madrasah dan Aksioma merupakan upaya menumbuhkan kecintaan pelajar madrasah terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) serta penelitian yang digelar di Malang, 5 sampai 9 November 2013 mendatang. Menurut Direktur Pendidikan Madrasah M. Nur Kholis Setiawan, kegiatan ini diikuti oleh Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah terbaik di tingkat provinsi tersebut, dapat menumbuhkan tradisi riset dari tingkat paling dasar.
“Intinya kami ingin riset bukan menjadi kegiatan yang jelimet. Kita tumbuhkan budaya riset sejak dini kepada siswa madrasah, Kami juga ingin siswa Madrasah kita seimbang dalam arti mereka juga harus kita beri ruang untuk meningkatkan keterampilan, kebugaran, kepribadian, seni olahraga dan lainnya. Jadi tidak hanya sains dan ilmu agama saja. Inilah tujuan kami menggelar Aksioma dan KSM,” kata Nur Kholis dalam konferensi pers di Kemenag.
Baca selengkapnya »
Diposting oleh Dadan Rusmana di 12.33 0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Madrasah Unggulan di Indonesia, modernisasi Madrasah, Pengembangan Sains di Madrasah

Sabtu, 26 Oktober 2013

Pendidikan Islam dan Pembangunan Masyarakat Relijius


Oleh:
El Chumaedi

Memahami konteks pendidikan Islam di Indonesia tidak cukup hanya dengan melihat bahwa pendidikan Islam merupakan subsistem dari pendidikan nasional. Akan tetapi, pendidikan Islam juga sekaligus sebagai entitas tersendiri yang memiliki tradisi dan kultur akademik yang berbeda dengan karakteristik pendidikan pada umumnya. Di antara ciri substantifnya adalah, bahwa pendidikan Islam dibangun atas dasar kesadaran dan keyakinan umat Islam untuk menjadi pribadi muslim yang taat (`abdullah, khalifah fi al-ard). Maka, wajar jika pengetahuan dan wawasan keislaman merupakan prasyarat mutlak yang harus dimiliki oleh seluruh umat Islam. Kesadaran semacam ini lalu menjadi èlan vital di kalangan pemimpin agama yang secara mandiri memfasilitasi penyelenggaraan pendidikan Islam di tengah masyarakat, baik secara individual maupun kolektif-kolegial (organisasi keagamaan, al-jam`iyah al-diniyah).
Baca selengkapnya »
Diposting oleh Dadan Rusmana di 13.32 0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Pendidikan Islam

Selasa, 27 Agustus 2013

UN dan Politisasi Standar Mutu

Oleh Masyhuri AM
Sekretaris Majelis Pertimbangan dan
Pemberdayaan Pendididkan Agama Islam (MP3A)

          Ujian Nasional (UN) sesungguhnya hanya salah satu sarana untuk melakukan penilaian serta untukmengetahui apakah rumusan tujuan pendidikan yang diterjemahkan ke dalam kurikulum dapat dicapai atau tidak. Ibarat sebuah produk, UN dapat dikategorikan sebagai tools untuk mengukur mutu produk (standard of quality assurance). Ukuran tersebut harus bisa berlaku umum. Jadi, ujian merupakan penerapan quality control management dalam dunia pendidikan. Dalam konteks ini UN tidak hanya berfungsi un¬tuk menentukan standar kelulusan, tetapi juga untuk mengukur mutu pendidikan secara merata di tingkat nasional. Selain itu, UN juga dapat menjadi instrumen evaluasi dalam penyelenggaraan pendidikan secara menyeluruh terhadap sekolah, guru, siswa, serta sarana/prasarana, termasuk rancang bangun kurikulum.
Baca selengkapnya »
Diposting oleh Dadan Rusmana di 13.42 0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Kebijakan Tentang Pendidikan, Pendidikan Islam, Standar Nasional Pendidikan

Kamis, 22 Agustus 2013

          Upaya mengembangkan madrasah unggulan di Indonesia terus diupayakan oleh Kemenag RI. Salah satunya adalah upaya untuk mengkloning sistem pendidikan MAN Insan Cendekia. Hingga kini (2014), telah terdapat tiga MAN IC, yakni MAN IC Serpong, MAN IC Gorontalo, dan MAN IC Jambi. Rencananya, Kemenag akan menambah dan mengembangkan MAN IC di 16 wilayah lagi, yang menyebar dari bagian Barat hingga bagian Timur Indonesia.
       Pengembangan ini didasari oleh keberhasilan MAN IC yang sudah ada, baik keberhasilan pada aspek akademis maupun non-akademis. Secara Akademis, MAN IC merupakan MAN yang menjadi model pengintegrasian Imtaq dan Ipteks, melalui program Boarding School-nya. pada aspek ini pula, raihan-raihan prestasi akademis lainnya dari MAN ICS, seperti keunggulan dalam bidang sains, kelulusan 100%, hampir 100% alumni-alumninya mampu melakukan studi lanjut, dan  > 80% lulusannya masuk di PTN favorit baik di dalam maupun di luar negeri.
Baca selengkapnya »
Diposting oleh Dadan Rusmana di 14.03 0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Madrasah Aliyah, Madrasah Unggulan di Indonesia, Pendidikan Islam

Rabu, 06 Juni 2012

Pendidikan Islam di Denmark

Wikipedia [dalam http://en.wikipedia.org/wiki/Islam_in_Denmark] menyebutkan bahwa Islam merupakan agama penduduk minoritas terbesar di Denmark. Menurut U.S. Department of State, hampr 3,7% penduduk Denmark adalah Muslim. Kebanyakan penduduk Denmark menganut agama Kristen, dengan Protestan membentuk sebanyak 92% dari orang Denmark dan Gereja Evangelical Lutheran merupakan gereja nasional. Pada 2005, 83.5% dari penduduk negara ini adalah anggota Folkekirken, gereja Kristen nasional befolkningstal.
Baca selengkapnya »
Diposting oleh Dadan Rusmana di 19.42 0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Pendidikan Islam di Amerika dan Eropa

Rabu, 30 Mei 2012

Sorogan dan Bandungan: Sistem Klasik Pendidikan di Pesantren

 Oleh: Dadan Rusmana

     Pada  kebanyakan pesantren salafi (tradisional), metode klasik kegiatan belajar mengajarnya terdiri dari dua bentuk, yakni 1) Sorogan, dan 2) Bandungan (Sunda; di Jawa dikenal dengan istilah bandongan atau wetonan). Sistem sorogan disebut pula dengan sistem individual (individual learning). Sedangkan, sistem bandungan (bandongan atau wetonan) disebut pula dengan sistem kolektif (collectival Learning atau together learning). 

Sistem Sorogan
        Sistem sorogan adal sistem membaca kitab secara individul, atau seorang murid nyorog (menghadap guru sendiri-sendiri) untuk dibacakan (diajarkan) oleh gurunya beberapa bagian dari kitab yang dipelajarinya, kemudian sang murid menirukannya berulang kali.  Pada prakteknya, seorang murid mendatangi guru yang akan membacakan kitab-kitab berbahasa Arab dan menerjemahkannya ke dalam bahasa ibunya (misalnya: Sunda atau Jawa). Pada gilirannya murid mengulangi dan menerjemahkannya kata demi kata (word by word) sepersis mungkin seperti apa yang diungkapkan oleh gurunya. Sistem penerjemahan dibuat sedemikian rupa agar murid mudah mengetahui baik arti maupun fungsi kata dalam suatu rangkaian kalimat Arab.
Baca selengkapnya »
Diposting oleh Dadan Rusmana di 14.16 0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: kurikulum Pesantren, Pendidikan Islam, Pesantren

Rabu, 01 Februari 2012

Beberapa Cara Salah Mendidik Anak

Anak adalah anugerah terindah dan terbaik yang dititipkan Allah kepada para orang tua. Ia lahir dalam keadaan fitrah (suci dan potensial), sebagaimana disebutkan dalam sebuh hadits bahwa Kullu Muludin Yuladu 'ala al-fitrah (setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah). Fitrah di sini dapat dimaknai suci atau potensial. Dimaknai suci, ini berarti bahwa setiap anak lahir dalam keadaan "tidak memiliki dosa apapun atau tidak menanggung dosa siapa pun". Sedangkan jika dimaknai potensial, hal ini bermakna bahwa setiap anak memiliki potensi yang sama dengan anak lainnya untuk tumbuh, berkembang, serta mencapai prestasi setinggi-tingginya. 

Dalam hal spiritual, setiap anak memiliki potensi untuk "beragama" atau "tidak beragama", percaya kepada adanya Tuhan (iman) atau menyangkalnya (kafir). Pilihan ini sangat tergantung kepada pendidikan awal [dalam rumah, terutama orang tua], lingkungan masyarakat, dan pilihannya [kelak ketika ia telah mampu memilih, atau ketika baligh]. Dalam hal intelektual, setiap anak memiliki potensi untuk cerdas atau sebaliknya (bodoh); demikian pula dalam hal etika, estetika, dan lainnya. Artinya, setiap anak mempunyai potensi positif  maupun negatif [wa nafsi wa ma sawwaha; faalhamaha pujuraha wa taqwaha).

Potensi ini selanjutnya sangat bergantung pada bagaimana orang tua dan masyarakat mempengaruhi perkembangan fisik dan psikilogis anak. Karenanya, para orang tua hendaklah memelihara, menumbuhkembangkan, dan mendidik anak secara baik dan maksimal. Semaksimal mungkin pula, para orang tua harus menghindari berbagai kesalahan dalam memberikan pendidikan bagi anaknya. Tulisan di bawah ini coba dishare agar para pembaca mampu menghindari beberapa kesalahan dalam mendidikan anak.
Baca selengkapnya »
Diposting oleh Dadan Rusmana di 16.11 0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Pendidikan Anak

Minggu, 22 Januari 2012

PENGEMBANGAN RAUDHAT AL-ATHFAL (RA/BA)


Pendahuluan
Sebagian besar orang tua atau guru menganggap kualitas anak didik berhubungan langsung dengan proses dan hasil belajar formal di kelas. Oleh karena itu, banyak orang tua yang kemudian menumpukan "tanggung jawab" pendidikannya kepada lembaga-lembaga pendidikan formal, seperti pesantren, madrasah, majelis ta'lim, sekolah, maupun Taman Kanak-Kanak (Raudhat al-Athfal). padahal pendidikan anak yang pertama dan utama justeru berada di lingkungan keluarga, yakni sejak di dalam kandungan hingga remajanya. Waktu kebersamaan antara anak bersama keluarga (dan masyarakat) justeru lebih banyak dibandingkan dengan waktu yang dihabiskan untuk pendidikan formalnya. Oleh karena itu, kualitas anak tidak hanya menjadi tanggung jawab lembaga pendidikan formal, tetapi lebih banyak berada pada pundak orang tua.
Pandangan bahwa pendidikan formal bertanggung jawab langsung pada pembentukan kualitas anak adalah real dan terjadi di masyarakat. Pandangan serupa pula muncul di kalangan para pendidik. Kalangan ini, misalnya, bahwa kualitas siswa ditafsirkan agar anak-anak yang masuk sekolah dasar harus mempunyai kemampuan yang memadai. Penafsiran itu menyebabkan beberapa Sekolah Dasar menetapkan syarat bagi calon siswa kelas satu, yaitu harus menguasai baca, tulis dan hitung. Tuntutan persyaratan ini menciptakan pola pembelajaran di bawahnya. Misalnya banyak TK yang menekankan program belajarnya pada berkemampuan membaca, menulis dan berhitung sekolah dasar, dengan mengabaikan prinsip-prinsip pembelajaran di TK. Bahkan banyak TK yang melaksanakan les baca, tulis dan hitung untuk mempersiapkan anak masuk sekolah dasar karena tuntutan tersebut, selain karena tuntutan orangtua yang ingin agar anaknya cepat pintar.
Baca selengkapnya »
Diposting oleh Dadan Rusmana di 14.52 0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Raudhatul Athfal (RA)

EVALUASI PROGRAM MTS SATU ATAP


Pendahuluan
Pendidikan merupakan kebutuhan setiap warga negara sebagai bekal untuk peningkatan taraf hidup manusia dan peningkatan daya bangsa. Untuk menjalani kehidupan, setiap manusia,  haruslah memiliki pengetahuan, pemahaman, dan nilai-nilai kebaikan yang dianut agar ia menjadi diri sendiri baik sebagai individu, anggota masyarakat, maupun sebagai warga negara, yang jujur, cerdas, kreatif, ta'at, dan bertanggung jawab. Pendidikanutama dan pertama berasal dari keluarga dan masyarakat. Hal ini karena pendidikan bukan hanya lah dimaknai sebagai "sekolah" (formal saja) tetapi adalah upaya mendidikkan (penanaman) dan pengalaman nilai atau dalam upaya "memanusiakan manusia".
Dalam konteks berbangsa dan bernegara, pendidikan, terutama pendidikan formal, merupakan tanggungjawab  pemerintah (Negara)  terhadap  setiap warga negara. Hal ini sebagaimana termaktub dalam konstitusi (UUD 1945 beserta peraturan derivatifnya) bahwa negara memiliki tanggung jawab yang besar dalam upaya pencerdasan kehidupan bangsa bagi warga negaranya. Semua warga negara berhak terhadap mendapatkan akses pendidikan di manapun dan dalam komunitas apapun tanpa adanya diskriminasi. Selebihnya, Negara harus mampu mendorong, mengawasi, dan membuat sistem agar setiap warga negara dapat mengenyam pendidikan, misalnya pendidikan dasar sembilan tahun, sesuai dengan ketetapan Pemerintah. Intinya, Negara harus dapat memastikan bahwa "Setiap warga negara telah mendapatkan pendidikan tidak ada satu warga negara pun yang terabaikan".
Baca selengkapnya »
Diposting oleh Dadan Rusmana di 14.02 2 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Kebijakan Tentang Madrasah, Madrasah Tsanawiyah

KESIAPAN MADRASAH DALAM PELAKSANAAN WAJIB BELAJAR 12 TAHUN


Pendahuluan 
Peningkatan  kualitas pendidikan adalah kebutuhan dan tanggung jawab bersama antara masyarakat dan Pemerintah Indonesia. Namun, dalam konteks berbangsa dan bernegara, menciptakan sistem pendidikan berkualitas baik adalah tanggung jawab Pemerintah. Bagaimana pun, Pemerintahan yang baik (good governance) adalah pemerintah yang mampu mengantarkan warga negaranya meraih kualitas hidup yang baik, sejahtera, bertanggung jawab, dan berkeadilan. Dengan demikian, jika kondisi masyarakat ternyata mendapatkan yang sebaliknya, maka itu dapat menjadi ciri dari pemerintah yang buruk atau tidak sukses. 
Salah satu indikator dari pemerintah, dan masyarakat, yang sukses adalah kualitas pendidikan. Semakin banyaknya masyarakat yang mengenyam pendidikan dan mendapatkan kepuasan layanan pendidikan, maka semakin sukseslah kebijakan pemerintah dalam sektor pendidikan. UNESCO sebagai badan dunia dalam bidang pendidikan telah menetapkan bahwa pendidikan dasar (bagi 5/6 tahun hingga usia 17 tahun) merupakan hak dasar bagi setiap warga negara manapun, termasuk warga negara Indonesia. Negara yang memiliki SDM dengan pendidikan minimal SMU (17/18 tahun) dapat dikategorikan sebagai negara yang berkualitas baik dalam kategori pendidikan.
Baca selengkapnya »
Diposting oleh Dadan Rusmana di 13.28 0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Kebijakan Tentang Madrasah, Madrasah
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

PROFIL

  • Dadan Rusmana
  • Unknown

Terjemahkan Blog Ini

Raga Berjarak, Hati Tetap Bersatu. Selamat Berbagi dan bersaudara Fillah
DAFTAR ISI

PENDIDIKAN ISLAM

  • Kebijakan Tentang Pendidikan (4)
  • Kurikulum Pendidikan Islam (2)
  • Manajemen Pendidikan Islam (3)
  • Pendidikan Islam (18)
  • Pendidikan Islam dan Radikalisme (1)
  • Pendidikan Islam di Amerika dan Eropa (6)
  • Pendidikan Karakter (1)
  • Standar Nasional Pendidikan (2)
  • Tokoh Pendidikan Islam Indonesia (3)

PESANTREN

  • Kebijakan Tentang Pesantren (2)
  • Pesantren (27)
  • Pesantren dan Radikalisme (6)
  • Titian Muhibah Dunia Pesantren (3)
  • kurikulum Pesantren (6)

MADRASAH

  • Kebijakan Tentang Madrasah (7)
  • Madrasah (17)
  • Madrasah Aliyah (3)
  • Madrasah Bertaraf Internasional (1)
  • Madrasah Ibtidaiyah (1)
  • Madrasah Tsanawiyah (1)
  • Madrasah di Asia Selatan (1)

SEKOLAH

  • Sekolah (5)

Tema Lainnya

  • Indeks Pembangunan Indonesia (2)
  • Kelamahan Pendidikan di Indonesia (1)
  • Niat mencari ilmu (1)
  • Perguruan Tinggi (5)
  • Profesionalisme Guru (1)
  • UN (1)

Entri Populer

  • Sorogan dan Bandungan: Sistem Klasik Pendidikan di Pesantren
  • Beberapa Kelemahan Dunia Pendidikan di Indonesia
  • Pendidikan Islam di Eropa: Jerman
  • MADRASAH DI INDONESIA: SEKOLAH TERBAIK
  • Beberapa Cara Salah Mendidik Anak
  • Indeks Pembangunan Manusia Indonesia: Masih Tetap di Jajaran Bawah

ARSIP TULISAN

  • ▼  2014 (8)
    • ▼  Februari (3)
      • ▼  Feb 13 (1)
        • MAN INSAN CENDEKIA GORONTALO
      • ►  Feb 11 (2)
    • ►  Januari (5)
      • ►  Jan 18 (5)
  • ►  2013 (6)
    • ►  November (3)
      • ►  Nov 27 (1)
      • ►  Nov 19 (1)
      • ►  Nov 13 (1)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 26 (1)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 27 (1)
      • ►  Agu 22 (1)
  • ►  2012 (7)
    • ►  Juni (1)
      • ►  Jun 06 (1)
    • ►  Mei (1)
      • ►  Mei 30 (1)
    • ►  Februari (1)
      • ►  Feb 01 (1)
    • ►  Januari (4)
      • ►  Jan 22 (4)
  • ►  2011 (55)
    • ►  Desember (7)
      • ►  Des 20 (2)
      • ►  Des 14 (1)
      • ►  Des 13 (1)
      • ►  Des 07 (2)
      • ►  Des 02 (1)
    • ►  November (16)
      • ►  Nov 30 (1)
      • ►  Nov 28 (3)
      • ►  Nov 26 (3)
      • ►  Nov 25 (1)
      • ►  Nov 22 (3)
      • ►  Nov 20 (2)
      • ►  Nov 19 (1)
      • ►  Nov 10 (1)
      • ►  Nov 08 (1)
    • ►  Oktober (10)
      • ►  Okt 30 (1)
      • ►  Okt 28 (2)
      • ►  Okt 27 (2)
      • ►  Okt 23 (3)
      • ►  Okt 15 (1)
      • ►  Okt 01 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 29 (1)
    • ►  Agustus (1)
      • ►  Agu 03 (1)
    • ►  Juli (4)
      • ►  Jul 31 (1)
      • ►  Jul 18 (1)
      • ►  Jul 14 (1)
      • ►  Jul 07 (1)
    • ►  Juni (4)
      • ►  Jun 17 (1)
      • ►  Jun 16 (1)
      • ►  Jun 08 (1)
      • ►  Jun 02 (1)
    • ►  Mei (4)
      • ►  Mei 23 (1)
      • ►  Mei 21 (1)
      • ►  Mei 20 (1)
      • ►  Mei 16 (1)
    • ►  April (3)
      • ►  Apr 25 (1)
      • ►  Apr 23 (1)
      • ►  Apr 22 (1)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 01 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 07 (1)
      • ►  Feb 04 (1)
    • ►  Januari (2)
      • ►  Jan 23 (1)
      • ►  Jan 13 (1)
  • ►  2010 (16)
    • ►  Desember (3)
      • ►  Des 30 (1)
      • ►  Des 29 (1)
      • ►  Des 15 (1)
    • ►  November (4)
      • ►  Nov 21 (1)
      • ►  Nov 16 (1)
      • ►  Nov 08 (1)
      • ►  Nov 05 (1)
    • ►  Oktober (7)
      • ►  Okt 30 (1)
      • ►  Okt 29 (1)
      • ►  Okt 28 (1)
      • ►  Okt 24 (1)
      • ►  Okt 22 (1)
      • ►  Okt 14 (2)
    • ►  September (2)
      • ►  Sep 30 (1)
      • ►  Sep 29 (1)

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini

Daftar Blog

  • Critical Muslims
    Syrian Muslim intellectual and critic Muhammad Shahrur (Shahrour) (1938-2019)
  • EKSOTISME DUNIA ISLAM
    Islam Jadi Agama Terbesar Kedua di 20 Negara Bagian AS
  • SASTRA MUSLIM
    HARI YANG DIJANJIKAN: NAJIB KAILANI
  • STUDI AL-QUR'AN
    Keseimbangan Angka-angka Dalam Al Qur’an
  • SEMIOTIKA

Tulisan dan Karya Terbaru tentang Pesantren dan Madrasah

  • Manajemen Pesantren_ A. Halim dkk (Ed)
  • Masa Depan Pesantren_Dr. In'am Sulaiman, M.Pd

INFO LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM

  • INFO PESANTREN DI INDONESIA

Meniti Harapan

Meniti Harapan
dadanrusmana2011. Diberdayakan oleh Blogger.