The Jakarta Post recently reported that the bombing in Umar bin
Khattab Islamic boarding school (pesantren) in Sonolo, near the West Nusa
Tenggara town of Bima, was related to Umar Patek, a wanted terrorist suspect
arrested in Pakistan (The Jakarta Post, July 25, 2011). Bima came to the
police’s attention late last June, when a 16-year-old student was arrested for
allegedly stabbing a policeman to death. The police believe the young boy was a
member of an Islamic militant group and that the boy insisted he killed the
officer as a reprisal for the police manhunt for jihadists.
PENJELAJAHAN RECITAL, INTELEKTUAL, DAN SPIRITUAL TAK BERTEPI
Tampilkan postingan dengan label Pesantren dan Radikalisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesantren dan Radikalisme. Tampilkan semua postingan
Selasa, 20 Desember 2011
Jihad, ‘pesantren’ and terrorist encounters
Rabu, 14 Desember 2011
Kurikulum Pendidikan Islam Tidak Mengajarkan Radikalisme
www.hurriyet.com.tr
Jauh-jauh hari, pasca berakhirnya perang dingin antara Amerika dan sekutu-sekutunya dengan Uni Soviet dan sekutu-sekutunya, Samuel Huntington memprediksi (bahkan mendesain) adanya "benturan peradaban" antara Barat dan Timur. Salah satunya adalah benturan peradaban antara Barat (baca: Amerika dan Eropa Barat) dengan Negara-Negara Muslim. Tesis-tesinya tentang hal itu diformulasikan dalam The Clash of Sivilization and Remaking of World Order (1998). Bukunya ini, dilengkapi dengan buku-buku sejenis dari penulis Barat lainnya, menjadi world view (pandangan dunia) politik Barat, yang memosisikan Timur (terutama dunia Islam) sebagai "kawan dalam pertikaian" (lawan) dari peradaban Barat. Karenanya, kemudian Barat berusaha untuk menghegemoni dunia Muslim, dalam berbagai bidang, terutama ekonomi, politik, dan kebudayaan.
Minggu, 31 Juli 2011
KH Hasyim Muzadi: Pesantren tak Ajarkan Rakit Bom
REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR - Tokoh
Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Muzadi, menegaskan bahwa pengajaran di pondok-pondok
pesantren tidak mengajari santrinya merakit bom atau pun aksi terorisme.
"Pesantren merupakan institusi Islam yang selalu mengajarkan kedamaian.
Dalam sejarahnya, pesantren tidak pernah mengajarkan kekerasan. Apalagi sampai
mengajari santri merakit bom," kata Hasyim Muzadi di Bogor, Jawa Barat,
Kamis (28/7/2011). Pernyataan Hasyim Muzadi disampaikan dalam "stadium
general" dengan tema "Peran Islam Moderat Bagi Ketahanan Bangsa dan
NKRI." Kegiatan tersebut dihelat secara bersama oleh Pengurus Cabang
Nahdlatul Ulama Kota Bogor, Pesantren Al-Ghazaly, dan Pemkot Bogor, yang
dipusatkan di kompleks Al-Ghazaly, Kotaparis, Kota Bogor.
Selasa, 01 Maret 2011
Ketua MUI: Pondok Pesantren Bukan Pencetak Teroris
LOMBOK--Ketua Majelis Ulama Indonesia
(MUI) KH Ma`ruf Amin, mengatakan, pondok pesantren bukan lembaga yang mencetak
pelaku terorisme penebar teror bom. "Pondok pesantren bukan lembaga
pencetak teroris dan ini harus diluruskan," katanya pada acara Rapat
Koordinasi Daerah MUI wilayah III (Jatim, Bali, NTB dan NTT), di Senggigi
Lombok Barat, Selasa malam. Ia mengakui bahwa sebagian dari pelaku
peledakan bom di sejumlah wilayah di Indonesia pernah mengenyam pendidikan di
pondok pesantren. Namun, pondok pesantren tidak pernah mengajarkan tentang
berjihad dengan melakukan teror bom yang menyebabkan banyak korban jiwa. "Jadi
sebenarnya ada distorsi pemahaman tentang ajaran Islam, pelaku peledakan bom
tersebut menganggap bahwa perbuatannya merupakan jihad," ujarnya.
Rabu, 15 Desember 2010
Pesantren Dimanfaatkan Teroris Sudutkan Islam
Tidak dapat dipungkiri bahwa para pelaku teror (terorist) di Indonesia adalah muslim. Dari sekian rentetan teror bom di Indonesia, hampir semua diidentikkan dengan orang muslim. Tentu saja, hal ini bukan berarti bahwa sikap mereka mewakili seluruh umat Islam Indonesia, jalan yang mereka ambil hanyalah mewakili kelompokl mereka, yang merupakan kelompok minoritas dalam tubuh umat Islam. Entah kebetulan atau pun tidak, mereka juga terkait dengan lembaga-lembaga pendidikan Islam, karena beberapa pelakunya adalah jebolan dari pesantren atau madrasah. Lantas dengan demikian apakah pesantren atau madrasah dapat diidentikkan sebagai pencetak "teroris"? tentunya jawabannya adalah "tidak!".
-----
BENGKULU--Pondok pesantren dinilai
hanya dimanfaatkan teroris untuk menyudutkan Islam dengan merekrut mantan
santri atau mereka yang pernah terdaftar di pesantren. "Padahal orang yang
direkrut menjadi pelaku bom bunuh diri cuma satu tahun atau hanya beberapa
bulan mondok di pesantren," kata Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatul
Mubtadi-ien Bengkulu, KH Muntaqim Ahmed di Bengkulu, Senin. Dikatakan, melihat kondisi di lapangan,
sepertinya mantan-mantan santri yang masih dangkal ilmu agamanya ini diincar
untuk dijadikan teroris atau bisa jadi mereka memang disuruh mondok beberapa
saat lalu kemudian melakukan bom bunuh diri.Kamis, 14 Oktober 2010
KH Kholil Ridwan: 'Ada Ketidakadilan terhadap Pesantren'
Begitu bom meledak di Bali Oktober 2005, yang disusul dengan munculnya video rekaman para aksi bom bunuh diri yang
mengaku sengaja melakukannya atas nama 'jihad'. Tiba-tiba saja dunia pesantren
menjadi tersandera. Aneka wacana bermunculan dalam kaitan pengawasan pesantren.
Dan gongnya, adalah perlunya pengambilan sidik jari bagi semua siswa pesantren.
''Kalau saya kasih komentar, ini artinya ada ketidakadilan publik terhadap
pesantren. Kenapa misalnya, para alumni Universitas Indonesia (UI) yang menjadi
koruptor, sebut misalnya, Ketua KPU Nazaruddin Syamsuddin, ditahan karena
dianggap korupsi, tapi kok UI tidak dikatakan sebagai sarang koruptor,'' ujar
Ketua Majlis Pimpinan Badan Kerja Sama Pondok Pesantren Indonesia (BKSPPI), KH
Kholil Ridwan. Padahal, kata dia, pesantren termasuk ikut melahirkan Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan berperan besar terhadap kehiduban bangsa
Indonesia.
Langganan:
Postingan (Atom)